BAREFOOD : Terlalu berpengaruh untuk dianggap tidak populer.
THIS IS BAREFOOD
Barefood.
Mungkin masih banyak yang belum akrab sama nama band asal Bekasi ini. Band ini digawangi oleh Mamet di bass dan Ditto di gitar, dua orang yang dari dulu kayaknya udah sepakat kalau musik adalah urusan perasaan, bukan pencitraan. Mereka nggak pernah punya drummer tetap, selalu gonta-ganti, tapi ada satu nama yang pasti lo kenal: ya, itu adalah Pandu Fuzztoni.
Sebelum Morfem se-raksasa sekarang dan udah melalang buana kemana-mana, Pandu pernah jadi penggebuk drum di Barefood. Sejarah kecil yang mungkin semua orang belum tau.
Berdiri sekitar tahun 2009, Barefood dimulai dari ruang jamming sederhana dan obrolan ringan yang kebanyakan berakhir jadi lagu. Nuansa 90-an yang kental di musik mereka bukan kebetulan itu warisan dari kaset, CD, dan memori masa kecil. Mamet tumbuh ditemani suara Weezer, Dinosaur Jr dan Netral. Sementara Ditto, yang masa kecilnya diwarnai konsol Sega dan sepatu LA Gear, ngebawa nostalgia itu ke dalam gitar dan riff-nya, mencoba mengabadikan memori masa kecil lewat musik.
BERAWAL DARI BANK LAGU MENJADI DEMO PENTING
Tahun 2010, berbekal materi-materi awal yang udah mereka garap dengan penuh rasa ingin tahu, Mamet dan Ditto akhirnya memutuskan buat masuk ruang rekaman. Niat awalnya sederhana aja cuma buat dokumentasi pribadi, semacam bank lagu supaya ide mereka nggak hilang begitu aja.
Tapi seperti halnya banyak hal besar yang lahir dari ketidaksengajaan, hasilnya justru di luar ekspektasi. Demo itu terdengar jujur, mentah dan hangat.
Karena merasa sayang kalau cuma disimpan sendiri, mereka akhirnya merilis demo itu di internet. Tanpa rencana promosi besar, tanpa gimmick. Cuma link sederhana yang kemudian dibagikan Dede dari Wasted Rockers lewat media sosialnya.
Dan dari situ, nama Barefood mulai bergulir pelan di lingkaran kecil penikmat musik independen. Gak meledak, tapi tumbuh. Kayak rumor bagus yang cuma disebarin dari telinga ke telinga dan justru di situ letak magisnya.
Lagu yang wajib lo denger : Deep and crush dan Breathe.
EP SULLEN, MASIH SAMA TAPI LEBIH SEGAR
Seiring popularitas yang makin naik dari panggung ke panggung kecil, Barefood akhirnya ngerasa udah waktunya ninggalin fase “band demo.” Tahun 2013, mereka ngerilis EP Sullen lewat label asal Jakarta, Anoa Records langkah pertama yang bisa dibilang jadi tonggak pendewasaan mereka sebagai band. Secara nuansa, Sullen masih membawa aroma khas demo-demo awal: lo-fi, jujur, dan penuh energi mentah. Tapi kali ini ada sesuatu yang lebih rapi, lebih berani.
Mamet dan Ditto sadar, kalau Sullen bukan sekadar rilisan, tapi bukti bahwa Barefood bisa tumbuh tanpa kehilangan akar. Mereka mulai seriusin prosesnya: ngebedah lagu satu-satu, nyusun jadwal latihan yang lebih padat, dan ngerapiin detail kecil yang sebelumnya mereka biarkan liar. Hasilnya, Sullen jadi karya yang sederhana tapi terasa matang semacam pernyataan: “Kami masih sama, tapi udah tahu mau ke mana.”
Lagu yang wajib lo denger : Sullen, Teenage daydream dan Grey Skies.
ALBUM PERTAMA DAN TERAKHIR, MILKBOX
Tahun 2017, setelah hampir delapan tahun tumbuh dari kamar latihan dan panggung-panggung kecil, Barefood akhirnya ngerilis album penuh perdana mereka — Milkbox. Masih di bawah payung Anoa Records, album ini berisi sembilan lagu yang jadi semacam jurnal perjalanan mereka: jujur, mentah, tapi kali ini lebih berwarna.
Di Milkbox, Barefood terdengar jauh lebih berani. Eksplorasi mereka terasa liar, tapi tetap dengan DNA yang sama, musik yang sederhana, dibalut distorsi tebal, tapi selalu punya melodi yang nempel di kepala. Di antara gemuruh gitar dan suara serak Mamet, ada kejutan-kejutan kecil: keyboard dan terompet yang muncul di beberapa lagu, ngasih ruang baru buat emosi mereka bernafas. Elemen-elemen itu bikin Milkbox terasa lebih luas, kayak lo ngeliat dunia Barefood dari jendela yang lebih besar, tapi tetep dengan cahaya sore yang sama. Album ini bukan cuma bukti kedewasaan, tapi juga penegasan bahwa Barefood nggak takut keluar dari pakemnya tanpa harus kehilangan arah.
Sayangnya, Milkbox juga jadi album pertama sekaligus terakhir Barefood.
Sebuah karya yang terasa seperti puncak sekaligus penutup, manis, tapi juga getir. Setelah album ini, Barefood lebih banyak diam; kayak seseorang yang udah berhasil ngomong semua yang pengen dia bilang, lalu memilih untuk menutup buku dengan tenang. Bukan karena mereka kehabisan kata, tapi mungkin karena Milkbox udah cukup untuk mewakili semuanya, keresahan, nostalgia, dan semangat muda yang mereka tuang dari awal berdiri. Album ini terasa kayak surat cinta yang gak pernah dikirim, tapi entah kenapa, tetap sampai ke banyak orang.
Lagu yang wajib lo denger : Biru, Hitam, Candy, Milkbox dan Sugar.
LEFT UNTOLD, PERPISAHAN EMOSIONAL BAREFOOD
Pada tanggal 18 November 2023, Barefood mengadakan konser terakhirnya. diselenggarakan oleh paguyuban crowd surf di Toba Dream, Jakarta.
Setiap band pembuka tampil dengan penuh hormat, seolah mengantar sahabat lama menuju bab terakhir.
Gascoigne nyebut Barefood sebagai “point of reference” buat band indie rock; Jirapah bilang mereka punya appeal lintas genre; Putri dari Sharesprings pernah ngisi vokal di “Sullen”; dan bahkan gitar di EP pertama Eleventwelfth ternyata milik Ditto. Pengaruh Barefood gak cuma di sound, tapi juga di cerita-cerita kecil di balik layar.
Begitu lagu pembuka “Deep and Crush” dimainkan, ruangan langsung meledak. Barefood membawakan hampir seluruh diskografi mereka malam itu dari “Amelie” sampai “Teenage Daydream.” Suasana naik-turun, antara nostalgia dan adrenalin. Di tengah-tengah, suara “Jangan bubar!” beberapa kali terdengar dari penonton, dibalas senyum kecil Mamet dan Ditto yang udah bicara banyak tanpa perlu kata.
Menjelang akhir set, Pandu Fuzztoni naik ke panggung dan menggantikan posisi drummer, kayak lingkaran yang akhirnya tertutup. Stage dive, teriakan, pelukan, semuanya melebur jadi satu. Momen paling puitis malam itu: Ditto ikut melompat ke arah crowd saat “Teenage Daydream” dimainkan, dan itu jadi lompatan terakhirnya bersama Barefood.
Tanpa banyak basa-basi, Barefood menutup perjalanannya dengan cara paling jujur: musik yang kencang, rapat, dan penuh energi. Mereka gak perlu speech perpisahan, karena sejak awal, Barefood memang gak pernah banyak bicara.
Semuanya disampaikan lewat nada dan distorsi, lewat kejujuran yang gak bisa diulang dua kali.
Mungkin alasan bubarnya tetap jadi misteri left untold, seperti nama acaranya. Tapi satu hal pasti: Barefood gak pernah benar-benar pergi. Mereka tetap hidup di kepala dan hati orang-orang yang pernah nyanyi bareng malam itu, atau bahkan cuma dengerin dari kamar sambil menatap langit Bekasi yang berdebu.
PENGARUH BAREFOOD TERHADAP MUSIK INDONESIA
Barefood gak cuma bikin lagu mereka meninggalkan jejak.
Buat banyak band muda, mereka bukan sekadar panutan, tapi semacam kompas buat nentuin arah. Nama-nama seperti Skandal, Texpack, sampai Swellow secara terbuka nyebut Barefood sebagai salah satu referensi utama mereka.
Di kota-kota yang punya denyut skena kuat seperti Bogor, di mana gigs kecil dan kolektif musik tumbuh kayak jamur di musim hujan, Barefood jadi semacam mitos kecil, bukti kalau musik yang jujur dan apa adanya masih punya tempat.
Mungkin mereka gak sepopuler Morfem atau Perunggu, tapi musik mereka adalah blueprint buat banyak band serupa, cetak biru dari kejujuran yang gak dibuat-buat, yang terus diwariskan lewat distorsi dan kalimat sederhana. tak heran mereka mendapat julukan your favourite band's favourite band.
Dikutip dari zine Sobat Barefood Left Untold Showcase dari Sobatindie, berikut beberapa tanggapan musisi mengenai seberapa besar pengaruh Barefood:
Bedchamber: Barefood punya peran besar buat kami. Pertama kali nonton mereka di acara Just For A Day #3, langsung pengen nge-band. EP perdana kami bahkan liner notes-nya ditulis Mamet rasanya kayak dapet restu dari idola.
Alvi (Gascoigne): Buat gue, Mamet adalah penulis pop terbaik yang pernah ada di skena, dan Ditto itu emo kid sejati yang ngerti gimana bikin gitar berasa emosional. Barefood itu band langka, jujur, anti-gimmick, dan selalu sakral karena jarang tampil. Mereka jadi point of reference penting buat banyak band indie setelahnya, termasuk gue.
Yogha Prasidhamukti (Skandal, Winona Tapes): Gue kenal Barefood dari acara Hearsee Tour sekitar 2011, sejak itu mereka selalu punya tempat spesial buat gue. Lagu-lagu mereka dari demo sampai Milkbox selalu jujur dan sentimental, kayak soundtrack masa muda. Buat gue, Barefood itu salah satu band Indonesia yang bisa ngegabungin emo 90s, lo-fi indie rock, dan kehangatan lirik dengan cara yang effortless. Banyak band, termasuk gue, belajar dari kesederhanaan mereka.
Almas (Eleventwelfth): Gue dan Ditto udah kenal lama, dan kalau bukan karena Barefood, mungkin Eleventwelfth gak akan ada. Mereka inspirasi besar buat kita, bukan cuma dari musik, tapi dari sikap dan ketulusan. Barefood ngajarin kalau band gak harus besar buat berpengaruh. Cukup jujur, konsisten, dan tahu kenapa lo main musik. Mereka udah ninggalin warisan yang bakal terus hidup di setiap band yang datang setelahnya. Sayangnya, kesempatan manggung bareng Barefood jarang banget, tapi kami selalu di crowd mereka. Makasih buat Mamet dan Ditto, tanpa kalian mungkin kami gak bakal mulai bermusik.
HUBUNGAN EMOSIONAL GUE DAN BAREFOOD
Buat gue yang lahir tahun 2003, bisa dibilang agak telat kenal Barefood. Gue baru dengerin mereka di tahun-tahun terakhir SMA, tepatnya pas masa pandemi, hari-hari panjang di kamar, playlist Spotify jadi satu-satunya teman ngobrol. Dan hari itu, gue berterima kasih sama fitur shuffle.
Awalnya gue lagi muter playlist berisi Morfem, Pure Saturday, dan beberapa band lokal lainnya. Tiba-tiba muncul lagu dengan gebukan yang kenceng tapi melodinya manis, kayak marah yang disampaikan dengan senyum. Lagu itu berjudul “Teenage Daydream.”
Sekali denger, gue langsung kejebak di suasana yang Barefood banget mentah tapi jujur, berisik tapi hangat. Lagu itu kayak ngebuka jendela kamar lo di tengah siang Bekasi yang panas, terus lo sadar: “Oh, ternyata ada udara yang beda di luar sini.”
Sejak hari itu, lagu-lagu Barefood selalu punya tempat di playlist gue berdampingan sama Dinosaur Jr, Weezer, dan band-band yang rasanya jujur tanpa banyak gaya. Musik mereka nemenin masa-masa awal kuliah gue yang ngebosenin; hari-hari di mana waktu jalan pelan, dan kepala gue sering kosong tanpa arah. Tapi Barefood, entah gimana, selalu berhasil bikin semuanya terasa sedikit lebih hidup.
Lagu-lagu mereka kayak “Candy” dan “Teenage Daydream” selalu jadi mood booster pas gue lagi bete. Sementara “Biru,” “Sugar,” dan “Sullen” jadi temen paling setia pas gue sendirian di balkon kamar, malam-malam panjang ditemani angin pelan, lampu-lampu kota, dan suara gitar yang kayak ngobrol pelan di telinga.
Begitu tahu mereka band asal Bekasi, gue langsung ngerasa punya koneksi aneh tapi hangat. Ada rasa bangga. kayak, anjir, kota yang sering orang ledekin panas dan macet ini ternyata bisa ngelahirin musik sekeren itu. Gue gak pernah pelit buat ngenalin mereka ke orang lain. Tiap nongkrong, pasti ada momen gue ngeracunin temen buat dengerin Barefood. Dan ajaibnya, banyak yang akhirnya ikut ngeband, dengan semangat yang sama: jujur, seadanya, tapi penuh rasa.
Gue pun begitu, gue mulai ngeband dan tanpa sadar Barefood jadi semacam arah buat gue. Bukan buat ditiru, tapi buat dihayati.
Satu hal yang selalu gue tunggu: momen Barefood manggung lagi.
Gue udah janji ke diri sendiri, kalau mereka tampil, gue harus nonton. Mau bokek kek, mau harus jual gitar, pedal efek, sepatu, apa aja bodo amat. Gue cuma pengen ngerasain lagu-lagu itu langsung, bukan cuma dari speaker laptop di malam-malam sepi.
Tapi setelah bertahun-tahun nunggu, mereka gak pernah muncul lagi.
Sampai akhirnya gue mulai nanya pelan ke diri sendiri: “Apa Barefood udah bubar, ya?”
Waktu hidup lagi tenang-tenangnya, tiba-tiba temen gue ngirimin postingan dari Paguyuban Crowd Surf.
Duarrrr.
Barefood ngadain konser terakhirnya bertajuk Barefood: Left Untold Showcase.
Rasanya campur aduk. Senang karena akhirnya mereka balik manggung, tapi juga sedih dan kecewa karena itu konser terakhir.
Tanpa pikir panjang, gue langsung minta temen gue beliin tiket sebelum keabisan. Dia akhirnya beli tiga, jaga-jaga kalau ada satu orang lagi yang mau ikut.
Hari-hari pun berlalu. Sampai gue bahkan sempat lupa tanggal showcase-nya.
Band gue dapet tawaran manggung di M Bloc, dan karena itu kesempatan bagus, kita langsung ambil tanpa mikir panjang. Gue sama sekali gak sadar kalau tanggalnya nabrak sama hari konser Barefood.
H-3 sebelum acara, temen gue ngabarin,
“Jangan lupa bawa kamera ya, nanti dokumentasiin Barefood.”
Dan di situ gue ngerasa kayak disamber petir. Gue baru sadar, di tanggal yang sama gue juga manggung.
Rasanya aneh banget: sedih, kecewa, bingung.
Di satu sisi, nonton Barefood adalah impian lama gue, bahkan semacam bucket list. Gue pengen banget ngerasain suasana mereka secara langsung, keringat, crowd, noise, semuanya.
Tapi di sisi lain, gue gak bisa ninggalin panggung band gue sendiri. Temen-temen band gue udah terlalu semangat, dan gue gak tega ngecewain mereka cuma demi ego pribadi.
Akhirnya cuma ada satu pilihan:
Gue tinggalin konser Barefood.
Dan keputusan itu... jujur, berat banget.
Satu hal yang gue titip ke temen gue cuma satu:
“Tolong videoin pas Barefood bawain Sugar, ya.”
Karena itu lagu yang paling deket sama gue, semacam personal favorite yang selalu gue putar pas malam udah terlalu sepi.
Akhirnya kedua acara itu kelar.
Malamnya, gue pulang, buka HP, dan nonton video kiriman temen gue. Ternyata dia rela nyempil di front row, cuma biar bisa ngambil video dari jarak paling dekat.
Waktu gue nonton, rasanya kayak beneran ada di sana, crowd yang padat, suara vokal yang agak fals tapi tulus, dan momen kecil yang cuma bisa diciptain Barefood.
Tapi tetep aja, bunga plastik bukan bunga asli.
Seindah apapun bentuknya, harumnya gak pernah sampai.
Dan di antara rasa senang dan nostalgia itu, ada sedikit rasa hampa, kecewa kecil yang susah dijelasin.
sampe sekarang gue cuma bisa berharap bahwa ada keajaiban barefood bakal comeback/reuni, kedengeran delusional karena jelas-jelas mereka udah ngucapin farewell ke semuanya, rasanya jadi harapan kosong aja. tapi harapan itu gak akan pernah luntur dan bakal terus hidup.
#BAREFOOD4EVER




Komentar
Posting Komentar